![]() |
Kegiatan promosi dalam pemasaran adalah nilai pengorbanan yang dikonversikan sebagai biaya perusahaan yang tidak kecil, besar biaya yang dikeluarkan ditentukan oleh seberapa besar cakupan pasar yang ingin didapatkan. Efektivitas promosi tidak bertujuan untuk membatasi biaya, tetapi untuk melakukan perencanaan yang lebih berkualitas dengan hasil yang lebih besar dari pengeluaran biaya pada kegiatan promosi sebelumnya. Dalam kegiatan bisnis, dikenal konsep biaya oportunitas (opportunity cost) konsep ini menjelaskan bahwa ada lebih dari satu pemanfaatan sumberdaya perusahaan. Sumberdaya perusahaan itu adalah uang, SDM, kemampuan manajerial dan waktu. Sumberdaya ini dapat dimanfaatkan untuk lebih dari satu kegiatan. Artinya, jika sumberdaya uang dipakai untuk kegiatan X untuk promosi, uang itu dapat dimanfaatkan tidak hanya bagi kegiatan promosi, tetapi bisa untuk kegiatan lain yang sama pentingnya.
Inti konsep biaya opportunitas adalah pemanfaatan secara optimal, efektif, dan efesien dari seluruh sumberdaya perusahaan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa konsep itu terkait dengan motto “Time is Money” mengapa muncul biaya promosi? Karena pada kenyataannya perbedaan penetapan biaya promosi antara satu perusahaan dengan perusahaan lain (produk sejenis) dipengaruhi oleh faktor kondisional seperti persaingan dan upaya menjaga loyalitas konsumen.
Seperti yang telah disebutkan, pemangkasan biaya promosi ternyata memberikan pengaruh tinggi terhadap penurunan pamor sebuah merek dibenak konsumen, apakah biaya promosi terkait dengan hal itu? Tentu tidak. Biaya promosi lebih menekankan pada bagaimana strategi yang disusun dapat lebih efesien dan efektif. Sebagai contoh, jika sebelumnya dengan biaya 10 juta rupiah dapat menjangkau promosi untuk tiga desa, maka setelah melakukan efisiensi biaya promosi, dengan jumlah uang yang sama, dapat menjangkau lima desa. Caranya tentu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kemampuan manajerial, kerja sama diantara tim, pemilihan media massa, koran, majalah, dan atau Tv yang lebih tepat, dan cakupan area pemasaran.
Kenyataan menunjukkan bahwa semakin besar biaya promosi yang dikeluarkan, semakin besar pula peluang terjadinya peningkatan penjualan dari sebuah produk ataupun jasa. Di sisi lain, pengeluaran biaya promosi yang sangat tinggi tidak menjamin sebuah produk atau jasa, akan laku keras. Dalam kasus branding rokok X (milik perusahaan D), branding di Bandung dianggap cukup tinggi, tetapi jika dilihat secara kasatmata, promosi itu tidak dapat mengubah posisi produk di pasar.
Dalam branding ini, semua orang dengan cepat mengenal rokok X, tetapi mampukah brand ini menguasai pasar? Jika tahun depan tidak ada perubahan yang signifikan dari penjualan rokok X, perusahaan D perlu mempertimbangakn kembali strategi promosi dan anggaran promosi. Mungkin perlu dilakukan pengalihan pasar sasaran promosi atau sebagian anggaran promosi ditujukan untuk mempertahankan promosi pada pelanggan yang sudah ada. Jika strategi promosi ini tidak berubah sehingga tidak terjadi perubahan, perusahaan D dianggap telah mengeluarkan biaya promosi yang tidak efektif dan efesien. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab kegagalan promosi rokok X. Bisa hal itu saja disebabkan oleh selera masyarakat setempat atau karena pasar yang ada sulit beralih ke rokok lain.










Bincang
Poskan Komentar