
Iklan yang disampaikan tidak menimbulkan kekesalan atau tampak membosankan bagi para audiens, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi respons mereka pada iklan itu secara keseluruhan. 1. Tidak membuat penonjolan, 2. Berbicara pelan atau mengurangi penonjolan itu, 3. Menempatkan informasi sebagai sesuatu yang telah diketahuinya, 4. Mengemas informasi itu sebagai hiburan, 5. Membuat audiens merasa memiliki peran, bukan sekedar memosisikan mereka sebagai penonton. Salah satu faktor yang membuat iklan mencapai keberhasilan adalah karena iklan itu tidak berbicara secara langsung melainkan menempatkan kita sebagai penonton. Selain menggembar gemborkan informasi baru, iklan disampaikan dengan nada rendah atau halus sebagai pengingat. Yang terpenting, semua komunikasi mampu menggerakkan pemicu memori. Dalam ingatan kita, citra atau konsep lama terpicu oelh sesuatu dalam iklan. Kita mengakui adanya persamaan dalam berbagai hal. Dalam proses tersebut, sesuatu yang baru mungkin diperkenalkan dan kita diperlihatkan bagaimana caranya menghubungkannya dengan yang lama.
Ketika sesuatau diposisikan sebagai hal “baru” maka fokus proses mental kita akan mengevaluasi (a) apakah itu benar-benar baru dan (b) apakah itu berhubungan dengan pengalaman, pengetahuan dan kepercayaan yang telah kita miliki.
Adapun informasi lain, yang diposisikan sebagai hal “biasa” kita perlakukan secara biasa pula. Kita berasumsi telah mengetahui hal itu sehingga kita cenderung mengabaikan validitasnya. Dengan kata lain, kita menganggapnya sebagai hal biasa.
Konstruksi kalimat, intonasi dan fokus kamera dapat dipergunakan untuk mengirim sinyal “biasa” dan “baru”. Pengiriman sinyal secara halus kadang juga sangat penting. Sayang, sebagian besar pasang iklan tidak mengetahui bagaimana mekanismenya.









Bincang
Poskan Komentar