
Apakah presenter itu si pemasang iklan sendiri, atau orang yang disewa, yang pasti mereka lebih efektif dan mudah diingat dibandingkan dengan penggunaan karakter suara dari seorang yang tidak kita kenal sama sekali. Lantas, mengapa pemasang iklan masih saja menggunakan karakter suara manusia? Alasannya karena biaya. Penggunaan karakter suara manusia hanya memerlukan sedikit biaya dan lebih fleksibel, terutama jika kita ingin membuat logat atau bahasa lain untuk digunakan secara internasional. Variasi dalam voice over para pemasang iklan akan sukses dalam menggunakan karakter suara manusia jika mereka dapat membuat beberapa variasi. Salah satu tren terbaru adalah dengan menggunakan karakter suara para bintang terkenal Hollywood dalam sebuah kampanye. Ketika James Earl Jones, Richard Dreyfuss atau Kathleen Turner bersuara, kita akan berkata, “saya mengenali suara itu” kita juga akan lebih jelas melihat wajah mereka dalam pikiran kita dibanding wajah yang langsung kita lihat dalam sebuah iklan.
Variasi lain adalah dengan mengatur karakter suara manusia ke dalam musik. Jika kita mengikuti acara hiburan seperti Phantom of the Opera, kita secara jelas dapat melakukan pendekatan dengan pengalaman yang sedikit berbeda dengan gaya kuliah di Universitas. Ketika sebuah karakter suara manusia dimasukkan ke dalam musik maka akan menimbulkan efek yang sama. Ambil contoh, iklan Canon (“You can on Canon”) atau Gillatte (“The Best a Man can get”). Iklan-iklan seperti ini akan lebih menghibur dan menyenangkan daripada diucapkan dengan karakter suara biasa. Kami membuat mereka berbeda – lebih dari sekedar pengalaman – dan efeknya lebih baik. Hal itu karena ada perubahan secara kognitif dari pemirsa. Cara merubahnya lebih dari sekedar membuat sebuah konsep drama musikal.
Variasi yang paling tidak biasa dalam karekter suara ini digambarkan oleh iklan Joe Isuzu yang populer itu. Joe, bintang iklan Isuzu, berperan sebagai seorang penjual yang selalu diklaim berlebihan untuk produk itu sehingga setiap waktu mendapat koreksi berupa sederet kata yang tampil pada layar televisi. Dan koreksi itu mungkin berasal dari si pemasang iklan sendiri. Joe berbicara kepada kita, sebagai pemirsa secara langsung. Tetapi pada saat yang sama pemasang iklan juga berbicara dengan sederet kata yang tampil pada layar – berlawanan dengan pendapat yang dikatakan berlebihan dari Joe itu. Dalam hal ini, pemasang iklan mencoba mendapatkan respons jujur dari kita sebagai pemirsa.









Good Job Boss!
Terima kasih, sukses.....!